Kamis, 03 Januari 2013

Masih ada Kesenjangan pada Akses PAUD


JAKARTA. Angka kemiskinan di Indonesia semakin berkurang, namun hal itu tak mengurangi kesenjangan anak dari keluarga miskin dan kaya dalam memperoleh akses pendidikan anak usia dini (PAUD). Untuk itu, diperlukan keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat miskin.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog di tengah kegiatan Workshop Sosialisasi Program PAUD Bersama Bunda PAUD se-Indonesia di Jakarta, Senin (17/12).

“Gap (kesenjangan) antara yang kaya dan miskin masih tinggi. PAUD lebih banyak diakses oleh anak dari keluarga ekonomi menengah ke atas. Jika ini dibiarkan gap ini akan terus bertambah lebar di masa depan,” ujar psikolog keberbakatan anak yang akrab dipanggil Reni Akbar-Hawadi ini.

Dijelaskan Reni, menurut penelitian para ahli neurologi, anak yang memperoleh pendidikan yang baik pada usia dini dapat memaksimalkan potensi dirinya serta dapat bertumbuh kembang secara lebih baik. Oleh karena itu, jika akses PAUD pada keluarga ekonomi rendah tidak diperluas, maka kesenjangan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan akan semakin jauh.

Untuk itu, dalam menghadapi tantangan ini, Indonesia memiliki strategi Pro-Poor (pengentasan kemiskinan), Pro-Growth (pertumbuhan), Pro-Job (penyerapan tenaga kerja), Pro-Environment (pelestarian lingkungan).

Sementara itu, dalam hal ini Direktorat Jenderal PAUDNI akan memperluas sebaran akses PAUD melalui gerakan “satu desa satu PAUD”. Dengan demikian anak usia dini dari berbagai kalangan dan wilayah, baik di perkotaan maupun pedesaan, baik miskin atapun kaya, bisa mendapatkan pendidikan.

“Artinya, dalam satu desa minimal terdapat satu PAUD. Jika sudah tercapai, maka tingkatkan lagi menjadi ‘satu RW satu PAUD’ seperti yang sudah ada di Yogyakarta,” ujar Reni.

Dijelaskan Reni, saat ini angka partisipasi kasar (APK) PAUD Nasional (termasuk Raudhatul Athfal di bawah binaan Kementerian Agama, dan satuan PAUD sejenis lainnya) baru mencapai 34,54 persen, yaitu sebanyak 10.401.708 anak yang terlayani. Masih diperlukan upaya keras untuk mencapai target 75 persen APK PAUD Nasional pada tahun 2015.

Salah satu strategi untuk mencapai target itu, para Bunda PAUD dari tingkat Nasional hingga tingkat kota dan kabupaten telah dikukuhkan. Bunda PAUD adalah para istri kepala daerah yang menjadi figur sentral ibu di wilayahnya. Tahun 2013, Bunda PAUD di tingkat kecamatan hingga kelurahan dan desa direncanakan bisa dikukuhkan seluruhnya.  Diharapkan keberadaan Bunda PAUD ini akan meningkatkan kepedulian masyarakat dan pemerintah daerah terhadap PAUD. (Dina Julita/HK)

Rabu, 12 Desember 2012

Pamong Belajar, Utamakan Kemaslahatan Program

SEMARANG. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog menegaskan agar para pamong belajar mengutamakan kemaslahatan program. Model yang dikembangkan harus membawa manfaat besar bagi masyarakat.    

Hal tersebut disampaikan Dirjen saat bertandang ke Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal dan Informal (PP PAUDNI) Regional II Semarang (4/12). Di salah satu Unit Pelaksana Teknis Ditjen PAUDNI tersebut, Reni Akbar Hawadi, sapaan Dirjen PAUDNI melakukan Pembakuan Hasil Uji Coba Model PAUD dan Pendidik dan Tenaga Kependidikan. “Saya melihat beberapa model yang kebermanfaatannya kurang bagi masyarakat,” ucapnya.

Kritik membangun yang disampaikan Reni tersebut mengandung maksud agar pamong belajar lebih inovatif dalam mengembangkan model. Manfaat bagi masyarakat harus benar-benar diperhitungkan sebelum mengembangkan model tersebut. Karena itu perlu disusun Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria sehingga seluruh proses pekerjaan tertata rapi. “Kita menggunakan uang rakyat, harus dipertanggungjawabkan sebaik-baiknya,” katanya.

Guru Besar Universitas Negeri Semarang Prof. Sukestiyarno menilai memang perlu ada pembakuan model. Pakar ekonomi statistik tersebut menekankan agar para pamong memiliki kesamaan pandangan tentang suatu model. “Hasil pengembangan model sebaiknya adalah suatu produk bukan kajian ilmiah,” sarannya. (Yohan Rubiyantoro/HK)

sumber: http://www.paudni.kemdikbud.go.id/pamong-belajar-utamakan-kemaslahatan-program/

Selasa, 04 Desember 2012

Release Blog BPM PNFI Kabupaten Cianjur

Assalamualaikum wr wb, ini merupakan blog resmi Balai Peningkatan Mutu Pendidikan Non Formal dan Informal KAbupaten Cianjur. Semoga dengan adanya blog ini kita semua dapat share mengenai ilmu pengetahuan tentang Pendidikan Non Formal dan Informal. dengan blog ini juga diharapakan kreatifitas menulis para punggawa Pendidikan Non Formal dan Informal di Kabupaten Cianjur dapat tersalurkan.

Blog ini sederhana akat tetapi dibalik kesederhanaan itu, terdapat harapan yang kompleks demi terwujudnya negara bangsa yang kuat. terima kasih....

selamat berkreasi.